iklan di surabaya

Papan reklame tersebut dinyatakan Undang-Undang (UU) No 38/2004 tentang Jalan. saat ini banyak ruang jalan yang dimanfaatkan papan reklame. Hal ini melanggar UU tentang jalan.
Reklame atau iklan di jalan merupakan hal yang diperlukan untuk kehidupan perdagangan dan jasa di kota. Kebutuhan untuk mempromosikan barang dan jasa untuk mendapat perhatian masyarakat sesuatu hal yang mutlak diperlukan dalam kegiatan perdagangan dan jasa apalagi di kehidupan kota kegiatan utamanya adalah perdagangan dan jasa. Sebagai contohnya pada gambar diatas reklame pulsa para produsen berlomba-lomba untuk memasang iklan di jalan maupun di tembok rumah orang.

Pemasangan papan reklame di sepanjang jalan, baik yang membentang maupun yang berada di tepi jalan, harus mulai diatur dengan baik. Memang, jalan merupakan salah satu tempat yang paling strategis untuk memasang iklan. Tetapi yang terjadi pada gambar diatas adalah pemasangan reklame di atap rumah orang padahal rumah orang tersebut tidak ada konter pulsa yang menjual pulsa. Tetapi disana terdapat pemasangan reklame. Hal ini yang membuat kurang beretika dalam pemasangan reklame, sehingga tidak enak untuk dipandang masyarakat. Pada dasarnya reklame tersebut menjual barang-barang jasanya agar banyak diminati oleh masyarakat. Untuk itu para pengusaha memanfaatkan reklame ini sebagai keuntungan diluar fungsi jalan diatas, Walaupun bukan pada tempatnya.
Disadari atau tidak, pemasangan papan-papan reklame diatas rumah orang justru dapat mengurangi fungsi pemandangan masyarakat, seharusnya papan reklame selalu diusahakan agar semenarik mungkin dan eye catching, sehingga orang-orang akan tertarik untuk memandang papan reklame tersebut.

PENGANTAR ETIKA BISNIS (Resume)

ETIKA BISNIS
A.Pengertian Etika Bisnis
Etika bisnis adalah pemikiran atau refleksi tentang moralitas dalam ekonomi dan bisnis. Moralitas berarti aspek baik atau buruk, terpuji atau tercela, dan karenanya diperbolehkan atau tidak, dan perilaku manusia.
B.Teori Etika Bisnis
Macam-macam teori etika bisnis, yaitu:
a) Utilitarisme (utilitarianism)
Utilitarisme berarti suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan jadi tidak boleh dimengerti dengan cara egoistis.

b) Deontologi
Deontologi lebih menekankan pada perbuatan tidak dihalalkan karena tujuannya, maksudnya kita tidak pernah boleh melakukan sesuatu yang jahat supaya dihasilkan sesuatu yang baik.
c) Teori Hak
Teori Hak ini adalah pendekatan yang paling banyak dipakai untuk mengevaluasi baik buruknya suatu perbuatan atau perilaku. Sebetulnya teori hak merupakan suatu aspek dari teri deontologi, karena hak berkaitan dengan kewajiban.

d) Teori Keutamaan
Dalam teori keutamaan, baik buruknya perilaku manusia dipastikan berdasarkan suatu prinsip atau norma. Kalau sesuai dengan norma, suatu perbuatan adalah baik, kalau tidak sesuai, perbuatan adalah buruk.

C.Periklanan dan Etika
Periklanan atau reklame adalah bagian tak terpisahkan dari bisnis modern. Kenyataan ini berkaitan erat dengan cara berproduksi industri modern yang menghasilkan produk-produk dalam kuantitas besar, sehingga harus mencari pembeli.

Fungsi periklanan yakni:
a) Proses komunikasi itu diadakan dalam rangka promosi
b) Iklan dilukiskan sebagai komunikasi antara produsen dan pasaran, antara penjual dan calon pembeli
c) Memperkenalkan sebuah produk atau jasa
d) Memberikan informasi tentang produk

Pengontrolan terhadap iklan:
a) Kontrol oleh pemerintah
Di Indonesia iklan tentang makanan dan obat diawasi oleh Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (POM) dari Departemen Kesehatan

b) Kontrol oleh para pengiklan
Biasanya hal yang dilakukan oleh para pengiklan dengan menyusun sebuah kode etik, sejumlah norma dan pedoman yang disetujui oleh para profesi periklanan itu sendiri, khususnya oleh asosiasi biro-biro periklanan

c) Kontrol oleh masyarakat
Masyarakat luas tentu harus diikutsertakan dalam mengawasi mutu etis periklanan. Dalam hal ini suatu cara yang terbukti membawa banyak hasil dalam menetralisasi efek-efek negative dari periklanan adalah mendukung dan menggalakkan lembaga-lembaga konsumen

D.Berbagai kasus-kasus etika periklanan

a) Iklan Filma di RCTI yang tidak etis
Kalau pemirsa TV-RCTI memperhatikan siaran iklan-iklannya, ada salah satu iklan minyak goreng yang bunyinya kurang lebih: ‘’Bila ibu ingin minyak goreng yang murni, jernih, lezat, sehat, gunakan asal sehat, pilihlah Filma, Filma membuat masakan lebih lezat dan sehat’’
Jadi dengan kata lain, ibu-ibu yang tidak memakai minyak goreng Filma, berarti tidak menggunakan akal sehat… alias akalnya tidak sehat. Bukankah ini kurang/ tidak etis? Seyogyanya pihak RCTI pun lebih hati-hati dalam menyiarkan iklan yang kata-katanya kurang tepat, Bagaimana pendapat ibu-ibu yang lain??? Terserah.

b) Iklan Plaza Senayan
Saya kaget dan sedih dengan nyanyian dan tokoh pelaku iklan Plaza Senayan. Begitu konsumtif dengan menggunakan helicopter belanja, dan terkesan hura-hura ditambah konteks nyanyian ‘’Hidup hanya sekali… Jangan sia-siakan’’ Apakah betul hidup hanya sekali itu harus diisi dengan hura-hura belanja penuh kemegahan?
Apa tidak terbesit sedikitpun untuk menggunakan hidup yang hanya sekali itu dengan dengan menjalankan ibadah, beramal dan membantu saudara kita yang masih banyak berekonomi lemah? Yang jangankan belanja dengan mewah ditempat megah, membeli makanan di warungpun mikir.

c) Iklan pasta gigi Zendium
Catatan dari penulis: Tentang Zendium dulu diiklankan bahwa ini satu-satunya pasta gigi yang mengandung enzim. Hal itu benar. Tapi ada klaim juga bahwa Zendium lebih ampuh melindungi gigi. Hal itu tidak benar dan malah menyesatkan. Para dokter gigi menegaskan bahwa gula (makan permen, misalnya) tetap merupakan perusak gigi nomor satu. Hal itu tidak berubah dengan adanya Zendium. Di bawah ini kami mengutip surat pembaca dari seorang dokter gigi Belanda tentang pasta gigi merek Zendium.

Sumber : Pengantar Etika Bisnis, K.Bertens (Kanisius, 2000)

JURNAL ETIKA BISNIS

Etika bisnis dalam Islam
Islam telah mensyariatkan etika yang rapi dan apiks dalam aktivitas bisnis. Etika bisnis akan membuat masing-masing pihak merasa nyaman dan tenang, bukan saling mencurigai. Etika bisnis dalam Islam telah dituangkan dalam hukum bisnis Islam yang biasa disebut dengan muamalah. Aktivitas ekonomi yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia mempunyai aturan-aturan tertentu, sebut saja aturan dalam hal jual beli (ba’iy), pinjam meminjam (ariyah), utang mengutang, berinvestasi (mudharabah), kerjasama bisnis (musyarakah), menggunakan jaminan (rahn), pengalihan utang (hiwalah) dan masih banyak jenis transaksi lainnya.

Demikian juga perbuatan yang dilarangan dalam bisnis seperti praktik riba dengan segala macam bentuknya, penipuan, ketidakjelasan (gharar), gambling (maysir) dan juga monopoli (ihtikar). Dalam hal tawar menawar jual beli, betapa indahnya jika dibungkus dengan etika bisnis. Jika seorang pedagang menjelaskan harga pokok sebuah sepatu dengan harga tertentu dan mengambil keuntungan dengan bilangan tertentu dengan mempertimbangkan biaya transportasi, sewa tempat dan seterusnya, maka tidaklah mungkin pembeli merasa keberatan dengan harga yang ditawarkan.

Dengan demikian, tidak terjadi spekulasi antara penjual dengan pembeli dalam tawar menawar, lebih dari itu terjadi hubungan persaudaraan yang indah antara penjual dan pembeli, sebab keduanya saling membutuhkan dan merasa terbantu. Bukan sebaliknya, terjadi kecurigaan dan bahkan tak jarang penipuan dalam rangka mencari keuntungan dan kesempatan.

Aktivitas bisnis harus berorientasi ibadah
Semua jenis transaksi dalam bisnis hendaklah didasari oleh prinsip-prinsip yang menjadi dasar dan patokan. Salah satu prinsip bisnis Islam adalah prinsip ilahiyah (prinsip ketuhanan). Prinsip ini sangat penting dalam mewarnai prilaku pelaku bisnis. Dalam Islam, semua aktivitas termasuk bisnis yang dilakukan bukan hanya pada dimensi duniawi yang berarti berkaitan dengan untung rugi saja.

Etika bisnis adalah tuntutan yang harus dilaksanakan oleh pelaku bisnis dalam menegakkan konsep keseimbangan ekonomi. Jika saja pengambilan keuntungan berlipat-lipat adalah sebuah kesepakatan pelaku ekonomi, bukankah hal ini menjadikan supply-demand tidak seimbang, pasar bisa terdistorsi dan seterusnya.

Nah, betapa indahnya jika sistem bisnis yang kita lakukan dibingkai dengan nilai etika yang tinggi.Etika itu akan membuang jauh kerugian dan ketidaknyamanan antara pelaku bisnis dan masyarakat. Lebih dari itu, bisnis yang berdasarkan etika akan menjadikan sistem perekonomian akan berjalan secara seimbang.

Business ethics in Islam
Islam has a neat and mensyariatkan apiks ethics in business activity. Business ethics will make each person feel comfortable and calm, rather than mutual suspicion. Business ethics in Islam has been poured in Islamic business law commonly referred to as muamalah. Economic activity which aims to meet the needs of human life has certain rules, namely rules in terms of sale and purchase (ba’iy), lending and borrowing (ariyah), debt borrow, invest (mudaraba), business cooperation (Musharaka), using collateral (rahn), the transfer of debt (hiwalah) and many other types of transactions.

Likewise dilarangan act in such business practices with all sorts of forms of usury, fraud, uncertainty (gharar), gambling (maysir) and monopoly (ihtikar). In terms of bargain sale, how beautiful it is wrapped with business ethics. If a dealer to explain the cost of a shoe with a certain price and take advantage of certain numbers by considering transportation costs, rent and so on, then the buyer may not object to the price offered.

Thus, there is no speculation among sellers with buyers in the bargain, it’s more than a beautiful place brotherly relations between seller and buyer, because they both need each other and find it helpful. Not vice versa, occurs not infrequently suspicion and even fraud in order to seek advantages and opportunities.

Business activities should be oriented worship
All types of business transactions should based on the principles that form the basis and benchmark. One of the principles of Islamic business is the principle of godlike (divine principle). This principle is very important in the paint business behavior. In Islam, all the activities include businesses that do not just mean on the dimensions of worldly profit and loss associated with it.

Business ethics is a demand that must be implemented by the businesses in upholding the concept of economic equilibrium. If only making profits many times over is an agreement of economic actors, not this make the supply-demand imbalance, the market could be distorted and so on.

Well, how wonderful if we do business system is framed by ethical values tinggi.Etika it will throw away the loss and inconvenience between business and society. More than that, a business based on ethics will make the system will run in a balanced economy.

Sumber :http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=71337:etika-bisnis-di-pasar-tradisional&catid=33:artikel-jumat&Itemid=98

JURNAL ETIKA BISNIS_Resty Faizzah_01108023

Etika bisnis dalam Islam
Islam telah mensyariatkan etika yang rapi dan apiks dalam aktivitas bisnis. Etika bisnis akan membuat masing-masing pihak merasa nyaman dan tenang, bukan saling mencurigai. Etika bisnis dalam Islam telah dituangkan dalam hukum bisnis Islam yang biasa disebut dengan muamalah. Aktivitas ekonomi yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia mempunyai aturan-aturan tertentu, sebut saja aturan dalam hal jual beli (ba’iy), pinjam meminjam (ariyah), utang mengutang, berinvestasi (mudharabah), kerjasama bisnis (musyarakah), menggunakan jaminan (rahn), pengalihan utang (hiwalah) dan masih banyak jenis transaksi lainnya.

Demikian juga perbuatan yang dilarangan dalam bisnis seperti praktik riba dengan segala macam bentuknya, penipuan, ketidakjelasan (gharar), gambling (maysir) dan juga monopoli (ihtikar). Dalam hal tawar menawar jual beli, betapa indahnya jika dibungkus dengan etika bisnis. Jika seorang pedagang menjelaskan harga pokok sebuah sepatu dengan harga tertentu dan mengambil keuntungan dengan bilangan tertentu dengan mempertimbangkan biaya transportasi, sewa tempat dan seterusnya, maka tidaklah mungkin pembeli merasa keberatan dengan harga yang ditawarkan.

Dengan demikian, tidak terjadi spekulasi antara penjual dengan pembeli dalam tawar menawar, lebih dari itu terjadi hubungan persaudaraan yang indah antara penjual dan pembeli, sebab keduanya saling membutuhkan dan merasa terbantu. Bukan sebaliknya, terjadi kecurigaan dan bahkan tak jarang penipuan dalam rangka mencari keuntungan dan kesempatan.

Aktivitas bisnis harus berorientasi ibadah
Semua jenis transaksi dalam bisnis hendaklah didasari oleh prinsip-prinsip yang menjadi dasar dan patokan. Salah satu prinsip bisnis Islam adalah prinsip ilahiyah (prinsip ketuhanan). Prinsip ini sangat penting dalam mewarnai prilaku pelaku bisnis. Dalam Islam, semua aktivitas termasuk bisnis yang dilakukan bukan hanya pada dimensi duniawi yang berarti berkaitan dengan untung rugi saja.

Etika bisnis adalah tuntutan yang harus dilaksanakan oleh pelaku bisnis dalam menegakkan konsep keseimbangan ekonomi. Jika saja pengambilan keuntungan berlipat-lipat adalah sebuah kesepakatan pelaku ekonomi, bukankah hal ini menjadikan supply-demand tidak seimbang, pasar bisa terdistorsi dan seterusnya.

Nah, betapa indahnya jika sistem bisnis yang kita lakukan dibingkai dengan nilai etika yang tinggi.Etika itu akan membuang jauh kerugian dan ketidaknyamanan antara pelaku bisnis dan masyarakat. Lebih dari itu, bisnis yang berdasarkan etika akan menjadikan sistem perekonomian akan berjalan secara seimbang.

Business ethics in Islam
Islam has a neat and mensyariatkan apiks ethics in business activity. Business ethics will make each person feel comfortable and calm, rather than mutual suspicion. Business ethics in Islam has been poured in Islamic business law commonly referred to as muamalah. Economic activity which aims to meet the needs of human life has certain rules, namely rules in terms of sale and purchase (ba’iy), lending and borrowing (ariyah), debt borrow, invest (mudaraba), business cooperation (Musharaka), using collateral (rahn), the transfer of debt (hiwalah) and many other types of transactions.

Likewise dilarangan act in such business practices with all sorts of forms of usury, fraud, uncertainty (gharar), gambling (maysir) and monopoly (ihtikar). In terms of bargain sale, how beautiful it is wrapped with business ethics. If a dealer to explain the cost of a shoe with a certain price and take advantage of certain numbers by considering transportation costs, rent and so on, then the buyer may not object to the price offered.

Thus, there is no speculation among sellers with buyers in the bargain, it’s more than a beautiful place brotherly relations between seller and buyer, because they both need each other and find it helpful. Not vice versa, occurs not infrequently suspicion and even fraud in order to seek advantages and opportunities.

Business activities should be oriented worship
All types of business transactions should based on the principles that form the basis and benchmark. One of the principles of Islamic business is the principle of godlike (divine principle). This principle is very important in the paint business behavior. In Islam, all the activities include businesses that do not just mean on the dimensions of worldly profit and loss associated with it.

Business ethics is a demand that must be implemented by the businesses in upholding the concept of economic equilibrium. If only making profits many times over is an agreement of economic actors, not this make the supply-demand imbalance, the market could be distorted and so on.

Well, how wonderful if we do business system is framed by ethical values tinggi.Etika it will throw away the loss and inconvenience between business and society. More than that, a business based on ethics will make the system will run in a balanced economy.

Sumber :http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=71337:etika-bisnis-di-pasar-tradisional&catid=33:artikel-jumat&Itemid=98